pemikiran plato tentang filsafat politik


A.    Biografi Plato
Plato dilahirkan di Atena pada tahun 427 S.M. dan meninggal disana pada tahun 347 S.M. dalam usia 80 tahun. Plato lahir dari keturunan bangsawan di Athena yang menjadi pusat peradaban Yunani. Latar belakang pendidikannya yang tinggi, dan persentuhannya dengan Socrates menjadikan Plato sebagai pemikir yang gelisah dengan perkembangan masyarakat Yunani ketika itu. Politik kacau balau, para penguasa sewenang-wenang dan korupsi merajalela menggiring Plato pada kecemasan-kecemasan intelektual. Karena merasa muak dengan kondisi sekelilingnya, Plato lalu lebih memusatkan pada dunia pemikiran, mengikuti jejak gurunya, Socrates.
Plato adalah salah satu murid Socrates yang paling dekat dengan sang guru. Ketika gurunya dihukum mati oleh pengadilan negara pada 399 SM, pelaksanaan hukum mati tersebut membuat Plato benci kepada pemerintahan demokratis. Kematian gurunya membuat Plato enggan bergelut di dunia politik, padahal sebagai keturunan aristokrat bukanlah hal yang sulit untuk bergelut di dunia politik. Plato lebih memilih jalan hidup layaknya sang guru, yakni menjadi Filosof.
Socrates adalah sangat besar berpengaruh terhadap pemikiran Plato, ia adalah murid setia Socrates yang banyak mewarisi tradisi keilmuan dan filsafat gurunya, malalui Plato pemikiran-pemikiran Socrates dilestarikan, Socrates mempunyai kelemahan karena buah atau hasil dari pemikirannya tidak ditulis dalam bentuk tulisan oleh Plato.
Sekitar tahun 387 SM dia kembali ke Athena, mendirikan perguruan di sana, sebuah akademi yang berjalan lebih dari 900 tahun. Akademi yang dia beri nama Academica itu tidak sekedar untuk pengembangan ilmu pengetahuan, lebih dari itu diharapkan menjadi pabrik pembentukan dan penempa orang-orang yang dapat membawa perubahan bagi Yunani. Lembaga pendidikan ini diharapkan dapat membentuk manusia yang berpengetahuan yang didapatkan dengan cara apapun dan dilakukan atas nama negara dalam rangka mencapai kebajikan. Di lembaga pendidikan ini pula yang mempertemukan Plato dengan muridnya yang kelak menjadi Filosof layaknya dia, yakni Aristoteles. Pada waktu itu usia Aristoteles adalah 17 tahun dan Plato 60 tahun. Namun sayang perjumpaanyaan dengan sang murid tidak berlangsung lama, karena 10 tahun kemudian Plato wafat, dan beberapa sumber mengatakan bahwa Plato meninggal dalam keadaan menulis (menulis merupakan kegemaran Plato). Plato menulis tak kurang dari tiga puluh enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika dan teologi, karya-karya Plato yang paling tersohor adalah Republica (Republik), Dialogue (Dialog), Statesman (Negarawan), dan Apologia (Pembelaan).
Plato juga berbicara mengenai keadilan, dalam karyanya Politea (republik) yang arti sebenarnya adalah konstitusi dalam pengertian suatu jalan/cara bagi individu-individu dalam berhubungan sesamanya dalam pergaulan hidup masyarakat. Dalam Politea juga bercerita “tentang keadilan”, keadilan merupakan tema pokok dalam buku tersebut. Keadilan berarti seseorang membatasi dirinya pada kerja dan tempat dalam hidup yang sesuai dengan panggilan kecakapan dan kesanggupannya.
Selain berbicara mengenai keadilan, Plato juga berbicara mengenai negara ideal. Menurutnya, negara ideal menganut prinsip kebajikan (virtue). Pandangan Plato mengenai sebuah negara tidak jauh berbeda dengan Socrates, negara yang baik adalah negara yang berpengetahuan dimana negara tersebut dipimpin oleh orang yang bijak (the philosopher king).
Alfred North whitehead mengatakan bahwa sejarah filsafat barat hanyalah merupakan rangkaian catatan kaki (footnote) dari Plato1. Hal ini menunjukan bahwa dalam ilmu filsafat Plato memilki posisi yang mengarhakan isitem dan pengemabangan ilmu ini. Sehingga dalam membincangkan filsafat adalah menjadi tidak pas jika tidak diawali dengan membahas Plato, baik biografi, karya-karya dan pengaruhnya pada ilmu pengetahuan. Walaupun Plato bukan yang mengawalai ilmu ini namun ia telah meberikan gagasan penting dari beberapa konsep tentang politik, Negara dan kekuasaan.
Bagi Plato, filsafat politik adalah upaya untuk membahas dan menguraikan berbagai segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan negara. Ia menawarkan konsep pemikiran tentang manusia dan negara yang baik dan ia juga mempersoalkan cara yang harus ditempuh untuk mewujudkan konsep pemikiran. Bagi Plato, manusia dan negara memiliki persamaan hakiki. Oleh karena itu, apabila manusia baik negara pun baik dan apabila manusia buruk negara pun buruk. Apabila negara buruk berarti manusianya juga buruk, artinya negara adalah cerminan mansuia yang menjadi warganya

B.    Pemikiran yang Dicetuskan Oleh Plato tentang Idea
Sumbangsih Plato yang terpenting adalah ilmunya mengenai ide. Dunia ini menurutnya tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan dari dunia ideal. Di dunia ideal semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual.
Berlakunya idea itu tidak bergantung kepada pandangan dan pendapat orang banyak. Ia timbul semata-mata karena kecerdasan berfikir. Pengertian yang dicari dengan pikiran ialah idea. Idea pada hakikatnay sudah ada, tinggal mencarinya saja. Pokok tinjauan filosofi plato ialah mencari pengetahuan ten tang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya sokrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi plato. Pengertian yang mengandung didalamnya pengetahuan dan budi, yang dicarinya bersama-sama dengan sokrates, pada hakekat dan asalnya berlainan sama sekali dari pemandangan. Sifatnya tidak diperoleh dari pengalaman. Pemandangan hanya alasan untuk menuju pengertian. Ia diperoleh atas usaha akal sendiri. Idea menurut paham plato tidak saja pengertian jenis, tetapi juga bentuk dari pada keadaan yang sebenarnya.
Menurut Plato ide tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Ide tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada ide. Ide adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Ide sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Ide-ide ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, ide tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari ide dua, ide dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan ide genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan ide-ide tersebut. Puncak inilah yang disebut ide yang “indah”. Ide ini melampaui segala ide yang ada.
Idea bukanlah suatu pikiran, melainkan suatu realita. Pendapat Parmenides tentang adanya yang satu kekal, dan tidak berubah-ubah. Tetapi yang baru dalam ajaran plato ialah pendapatnya ten tang suatu dunia yang tidak bertubuh. Filosofi grik sebelumnya dia tidak mengenal gambaran dunia dunia semacam itu. juga adanya dalam pikiran Parmenides, yang mengisi yang sepenuh-penuhnya, sehingga di sebelah adanya tidak ada lagi tempat yang kosong, masih merupakan sesuatu yang bertubuh.

C.    Plato tentang Negara Ideal
Nilai-nilai atau pandangan Plato pada dasarnya adalah pandangan tentang kebajikan  sebagai dasar negara ideal, ajaran Socrates kebajikan pengetahuan adalah diterima secara taken for granted, jadi penulis melihat bahwa pemikiran Plato nilai- nilai orisionalitasnya dipertannyakan, penulis berani mengatakan bahwa pemikiran Plato tidak ada, tapi yang ada adalah kelanjutan pemikiran Socrates saja yang ditulis dan dilanjutkan oleh Plato, artinya Plato hanya melanjutkan pemikiran Socrates yang kemudian dikembangkannya yang tidak terlalu mendalam, jadi  menurut penulis kita tidak boleh terlalu mengagung-agungkan pemikiran Plato itu sendiri.
Ciri dari negara yang bijak itu adalah dipimpin oleh rezim aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama. Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut “guardian” harus menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan kualitas.
Menurut Plato negara ideal menganut prinsip yang mementingkan kebajikan. Kebajikan menurut Plato adalah pengetahuan. Apapun yang dilakukan atas nama Negara harus dengan tujuan untuk mencapai kebajikan, atas dasar itulah kemudian Plato memandang perlunya kehidupan bernegara. Tidak ada cara lain menurut Plato untuk membanguan pengetahuan kecuali dengan lembaga-lembaga pendidikan,  inilah yang kemudian memotivasi Plato untuk mendirikan sekolah dan akademi pengetahuan.
Negara ideal menurut Plato juga didasarkan pada prinsip-prinsip larangan atas kepemilikan pribadi, baik dalam bentuk uang atau harta, keluarga, anak dan istri inilah yang disebut nihilism. Dengan adanya hak atas kepemilikan menurut filsuf ini akan tercipta kecemburuan dan kesenjangan sosial yang menyebabkan semua orang untuk menumpuk kekayaannya, yang mengakibatkan kompetisi yang tidak sehat. Anak yang baru lahir tidak boleh diasuh oleh ibu yang melahirkan tapi itu dipelihara oleh Negara, sehinga seorang anak tidak tahu ibu dan bapaknya, diharapkan akan menjadi manusia yang unggul, yang tidak terikat oleh ikatan keluarga dan hanya memiliki loyalitas mati terhadap negara.
Dari Plato ini, pemikiran demokrasi berawal. Dalam perkembangannya kemudian memunculkan berbagai konsep tentang negara dan demokrasi. Hanya saja, seluruh konsep itu hancur dalam perang Philopo antara Sparta dan Athena. Hancurnya Athena ikut menenggelamkan Yunani yang pada abad-abad berikutnya munculan kekuasaan Romawi. Yang menarik, Yunani tidak mengenal individualitas dalam demokrasi. Hak-hak individual tidak dikenal dalam demokrasi Athena. Masyarakatnya adalah masyatakat kolektif yang disebut community yang maknanya sama dengan Polis. Jadi Polis itu gabungan negara yang di dalamnya ada pemerintahan (Condominium), ada banyak polis termasuk di dalamnya Athena dan Sparta yang kemudian mengembangkan konsep militerisme.
Di Negara demokrasi setiap orang berhak dan memiliki kebebasan dalam melakukan apa yang dikehendakinya, tanpa ada kontrol yang ketat dari negara, karena adanya kebebasan setiap orang berhak dalam mengkritik orang lain, terlepas apakah yang di kritik tersebut rakyat atau negara. Bila kekuatan saling mengkritik tanpa adanya control pemerintah, maka akan  menimbulkan kekacauan sosial.

D.    Etika Plato
Palto adalah termasuk tokoh filsafat yang mengutamakan etika. Daia merumuskan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kesenangan dan kebahagiaan. Sehingga untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan manusia harus berupaya melalui etika. Namaun demikian kesenangan hidup ang di maksud Plato adalah bukan kesenangan dengan memuaskna hawa nafsu selama hidup di dunia indrawi. Pada tataran ini Plato konsisten dengan ajarannaya tentang dua dunia, yaitu dunia indrawi dan dunia ide, dunia yang sebenranya. Sehinggga kesenangan hidup harus diihat dari dua dunia tersebut.
Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau negara.
Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Plato bahwa dunia yang sebenarnya adalah dunia ide. Semua ide dengan inde yang baik atau ide kabaikan dan ide kebajikan sebagai ide yang tertinggi yang ada di dunia ide adalal realitas yang sebenarnya. Sedangkan segala sesuatu yang ada di dunia indrawi hanyalah mrupkan realitas bayangan. Jiwa manusia sebelum terpenjara oleh tubuh adalah berasal dari dunia ide. Oleh kareana itu sifat pengetahuan bagi Plato adalah sebuah upaya untuk kembali kedunia awal, dui aide dalam proses mengingat. Etika Plato jelas didasrakan pada pengetahuan, sedangkan pengetahuan hanya mungkin diraih dan dimilki lewat akal budi, maka itulah sebabnya etika Plato disebut sebagai etika rasional.

E.    Teori Politik dari The Republic
1.    Definisi Keadilan
Definisi keadilan bisa ditemukan dalam penggambaran Plato tentang dialog antara Socrates dan sahabat-sahabatnya pada perjamuan di rumah Cephalus. Definisi Cephalus dan anaknya Polemarchus tentang keadilan cenderung tradisionalistik sedangkan Thrasymachus lebih bersifat sophis. Plato sendiri beranjak dari definisi teleologis dari pemerintah bahwa tujuan dari pemerintah adalah memperjuangkan kebaikan dari yang diperintah dan semua menjalankan fungsinya masing-masing. Singkatnya, Plato mengartikan keadilan sebagai virtue, kemampuan yang membuat semua jiwa dan polis untuk menjalankan tugas dan pekerjaannya masing-masing.
2.    Polis bagi para Gembala
Dari sini, Plato mulai menggambarkan Polis yang ada dalam Ideanya kedalam realita. Sebagaimana ahli geometri yang menggambar segitiga dan lingkaran untuk mengkomunikasikan idenya. Pelukisan Polis ini pun dimulai dengan definisi teleologis, bahwa fungsi dari Polis adalah untuk memenuhi kebutuhan individu yang tidak dapat ia penuhi sendiri.
Kebutuhan pertama manusia adalah kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan dan sebagainya. Dari kebutuhan itu, tanpa disadari dan secara spontan muncullah spesialisasi di bidang ekonomi dan pertukaran. Ada kepentingan yang saling melengkapi dan kerjasama yang spontan. Plato mengatakan bahwa konstitusi Polis yang seperti inilah yang benar-benar sehat. Dari sini muncullah keinginan terhadap kemewahan yang nantinya membuat Polis semakin kompleks dan meningkatkan kekuatannya. Terciptalah golongan tentara. Paradox terjadi karena timbul kecintaan yang berlebihan terhadap materi, perang dan perebutan harta. Dari ide manusia yang polos dan penuh nafsu ini, Plato beranjak ke Ide Tri-Fungsi Manusia. Meminjam istilah Francis Cornford, Masyarakat yang baik harus memiliki tiga institusi sosial yang berfungsi; membuat keputusan dan memerintah (legislatif), melaksanakan (eksekutif dan administratif), dan memproduksi. Pemisahan ini diturukan dari Idea tentang manusia yang rasional, spiritual dan penuh nafsu.
3.    Pendidikan para Guardian
Selanjutnya, The Republic dipenuhi percikan-percikan pemikiran tentang sistem perekrutan anggota dari ketiga bagian diatas. Tapi hanya proses seleksi dan rekrutmen dari kelas guardian (yang memerintah) yang mendapat perhatian lebih karena menurut Plato, baik atau buruknya pemimpin mempegaruhi baik atau buruknya masyarakat. Plato menggambarkannya secara mendetail dan panjang lebar, tapi singkatnya itu merupakan pendidikan yang keras, lama, tertutup, kadang lebih bersifat genetis, tapi bukan seperti sistem kasta.
Bagi kelas lain, ideologi dan justifikasi virtue disampaikan dalam bentuk Noble Lie/Royal Lie (lebih tepatnya mungkin Mitos atau legenda dari terjemahan Yunani Pseudos) karena kemampuan nalar mereka dianggap tidak akan saggup menerima penjelasan filosofis yang panjang dan sulit. Dan ini memang sudah menjadi ciri khas Plato untuk menyampaikan tema-tema filosofis yang sulit dalam bentuk cerita, alegori dsb.
Keadilan dalam diri individual kemudian lebih jelas terlihat, ini adalah Idea hubungan kontrol antar bagian dalam jiwa dalam Idea tentang manusia. Problem bahwa keadilan tidak merata tertanam disemua warga dijawab Plato bahwa semua warga bisa berlaku adil. Bedanya, sikap adil kelas pemerintah dikontrol oleh rasio sedangkan kelas yang lain oleh kepercayaan.

F.    Konteks Intelektual dan Politik Zaman Plato
Fondasi filsafat politik Plato bisa dikatakan adalah “the transcendent good.” Dan pencarian Plato terhadap “Yang Baik” itu hanya bisa dipahami dalam konteks ilmu politik di masa awal Yunani, dan hubungan yang digambarkan Plato antara ilmu tersebut dengan Perang Peloponnesia, sebuah perseteruan besar antara Athena dan Sparta untuk memperebutkan hegemoni dunia Yunani (434-404 SM).
1.    Ilmu Politik Naturalistik
Awal ilmu Politik bisa ditemukan dalam karya-karya Filsuf Ionia pada abad ke 6-5 SM. Merekalah yang pertama kali memperkenalkan teori umum yang naturalistik tentang hukum kausa sebagai ganti dari mitos tradisi dan agama. Kita mengenal Anaximander dan Anaximenes dengan teori kausa mekanisnya. Atau Thales yang berhasil memprediksi gerhana bulan pada 585 SM.[2] Untuk Teori sosial dan politik, kita mengenal Demokritus dengan teori atomnya dan Protagoras, tokoh rasionalis utilitarian yang sering diangap sebagai Bapak Relativisme karena meletakkan ukuran segala kebenaran pada manusia. Plato banyak menyinggung-nyinggung mereka dalam dialog-dialognya.
2.    Demokrasi Pericles dan Para Sophis
Trend ilmu politik yang diuraikan diatas berkembang di dunia politik Yunani saat itu yang merupakan era keterbukaan dan pembauran antar kultur, serta masa-masa skeptis dan sekular. Meluasnya cakrawala pikiran ditengah kebingungan menghadapi kehidupan manusia dengan segala keragaman sikap, pemikiran, ideologi, hukum dll. Tidak ada perspektif final yang bisa ditemukan. Kebenaran yang dipuja di satu sekolah filsafat bisa jadi merupakan kesalahan di sekolah yang lain.
Athena adalah komunitas terbuka tempat perseturuan segala talenta dan kecerdasan. Karena itu sekolah-sekolah sophis timbul dimana-mana, dengan menitikberatkan pada pelajaran-pelajaran teknis untuk memperoleh kesuksesan di ranah sosial dan politik daripada pengajaran filosofi dan moral. Dengan demokrasi langsung, kebijakan dibuat di Ecclesia, lembaga yang dihuni pria-pria Athena yang kekuasaannya tidak terbatas, dan semenjak posisi itu tidak diwariskan, ia jadi diperebutkan.
Dan Sophis yang biasanya kita artikan sebagai “orang bijak,” saat itu adalah guru keliling dan perannya cukup berpengaruh dalam proses demokratisasi kehidupan Yunani. Sebagai cendekia yang pandai berdebat, membual dan beretorika, harus diakui konotasi sophis tidak begitu bagus saat itu dan sikap Plato sangat kritis terhadap para Sophis ini.
3.    Perang Peloponnesia
Kekacauan lain yang dihadapi Plato semasa hidupnya adalah Perang Peloponnesia. Ia lahir pada tahun keempat perang tersebut. Pesatnya kemajuan Athena beserta polis dan koloni-koloninya di seluruh Aegean di pantai Asia minor di segala bidang pada 431 SM. menemukan antitesanya di Sparta dan para sekutunya di Liga Peloponnesia. Perlawanan yang dilancarkan Sparta terjadi di berbagai level; level ekonomi (kekuatan agraria vs kekuatan perdagangan laut), level masyarakat (religius tradisional vs sekuler inovatif), dan level politik (aristokrasi tertutup vs demokrasi terbuka). Dan hasil akhirnya adalah untuk Sparta.
Thucydides mencoba merumuskan analisa saintifik mengenai perseteruan ini dengan memakai frame naturalistik Democritus dan Protagoras. Tapi tak seperti para pendahulunya itu, dia tidak bisa menggambarkan resep utilitarian untuk kestabilan demokrasi dan konsensus dalam penjelasannya. Dia hanya bisa menjelaskan sebuah patologi tanpa bisa menawarkan solusinya. Demokrasi di satu sisi penuh dengan energi yang tercermin dalam kegemilangan ekonomi dan politik Athena tapi di sisi lain, institusi demokrasi juga mengakibatkan ketidakstabilan kekuatan tersebut. Demokrasi menurutnya bisa memfasilitasi munculnya kekuatan yang besar namun tidak bisa menolong untuk merawatnya.
4.    Pencarian terhadap Tuntutan Moral (Moral Order)
Plato menghabiskan masa mudanya menyaksikan adegan-adegan konflik yang puncaknya adalah adegan kejatuhan kerajaan Athena dan keruntuhan institusi demokrasinya. Yang tersisa dari politik saat itu adalah kekalahan, konspirasi dan dominasi kelas. Perseteruan warga terus berlanjut bahkan jauh setelah perang usai. Puncaknya, tahun 399 S.M. Plato menyaksikan Socrates, gurunya yang paling dicintai dieksekusi dibawah rezim demokrasi yang telah direstorasi setelah kekalahan sebagai kambing hitam dari perseteruan antar faksi.
Situasi Athena and Yunani yang menyedihkan itu membuat Plato bertekad menerapkan cara baru dalam berpikir tentang Politik dan Etik.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pemikiran Plato sangat dipengaruhi oleh Socrates, baik gagasan, ide dan nilai-nilai yang disampaikan oleh Socrates, semuanya ditulis oleh Plato dalam bentuk buku, terutama karyanya yang fenomenal sampai sekarang.
Pemikiran Plato sesungguhnya berdasar pada corak masyarakat saat itu, bukan memaksakan sebuah sistem kepada masyarakat Athena. Pada saat itu, kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat mencolok, pertentangan politik pun kian hebat. Sistem pemerintahan tidak pernah berjalan secara tetap, karena selalu terjadi perubahan dari aristokrasi, oligarki hingga demokrasi.
Keadilan adalah keutamaan (arete) yang membangun kepribadian manusia secara utuh, pada saat yang sama menghidupkannya aktif dalam pergaulan sosial. Poin ini, yakni memandang citra keadilan pada pembinaan jiwa individu sama dengan citranya pada pembinaan pergaulan sosialnya, adalah bagian lapisan paling dasar dalam filsafat politik Plato.

 

DAFTAR PUTAKA

Tafsir, Ahmad. 1990. Filsafat Umum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Saebani, Beni Ahmad. 2008. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia
Rapar. 2001. Filsafat Politik. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Syam, Firdaus. 2007. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Bumi Aksara.
Noer, Deliar. 1999. Pemikiran Politik di Negara Barat. Bandung: Mizan Pustaka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s